STAGNASI PEMBANGUNAN NON-FISIK: MASYARAKAT TANIMBAR RAWAN HANYA JADI PENONTON BLOK MASELA

IMG-20260523-WA0087

 

SAUMLAKI –23. Mei. 2026 Jurnal Kepulaan News Perjalanan panjang rencana investasi INPEX Blok Masela sejak tahun 1998 hingga 2026 masih menyisakan ketimpangan serius di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT). Pembangunan daerah dinilai terlalu condong pada pemenuhan kepentingan industri, sementara penguatan kapasitas dan kualitas hidup masyarakat lokal terancam berjalan stagnan.

 

 

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bahwa kegagalan penyiapan sumber daya manusia (SDM) akan membuat warga Tanimbar tersingkir dari ruang ekonominya sendiri. Berikut adalah sejumlah rapor merah pembangunan non-fisik di wilayah bumi Duan Lolat:

 

 

  • Minim Pelibatan Substantif: Sosialisasi dampak proyek megaproyek ini minim solusi konkret. Warga adat merasa hanya dijadikan objek administratif dalam proses AMDAL, tanpa pelibatan nyata dalam pengambilan keputusan terkait ancaman deforestasi dan hilangnya tanah ulayat warisan leluhur.

 

 

  • Nasib Lulusan Beasiswa Terlantar: Program beasiswa bergengsi seperti SKK Migas Cepu terbukti belum solutif. Puluhan mahasiswa lokal yang telah lulus kini telantar di daerah tanpa kepastian penyaluran kerja maupun ruang untuk mengimplementasikan ilmu mereka.

 

 

  • Vokasi dan UMKM Stagnan: Lemahnya implementasi Corporate Social Responsibility (CSR), mandeknya pembinaan UMKM lokal, serta minimnya lembaga pendidikan vokasi berbasis industri migas mempertegas bahwa peningkatan kapasitas masyarakat masih bersifat simbolik.

 

 

Jika pemerintah daerah dan perusahaan terus fokus pada percepatan investasi tanpa keseriusan membangun SDM lokal, masyarakat Tanimbar dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai buruh kasar, bukan aktor utama pembangunan. Reformasi kebijakan pelayanan publik di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan perlindungan hak adat mendesak dilakukan demi menciptakan kemandirian masyarakat yang berkelanjutan.

 

(ELON)