Dinilai Tak Punya Rasa Peduli Tempat Suci, Tukang Sensor Pohon di Lauran Patok Ongkos Mahal di Lokasi Lourdes

IMG_20260914_174543_707

LAURAN,JURNALKEPULAUAN NEWS .COM /  Kekecewaan mendalam menyelimuti warga yang sedang bergotong royong melakukan penataan di Situs Ziarah Keagamaan Katolik Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan. Di tengah tingginya gelombang antusiasme masyarakat desa lauran yang menyumbangkan tenaga secara sukarela, tindakan tidak terpuji dari salah seorang oknum warga penyedia jasa potret kayu (tukang sensor) justru memicu polemik hangat di tengah masyarakat adat, Senin (14/09/2026).

Kejadian ini bermula saat salah satu warga Desa Lauran diminta secara resmi oleh Ketua Rukun setempat untuk melakukan pemotongan pohon kayu (sensor) di area hutan sekitar. Hasil pemotongan kayu tersebut ditujukan murni untuk pembuatan beberapa lembar papan konstruksi yang akan dipakai pada pengerjaan awal fondasi di situs suci Goa Lourdes Bunda Maria dan Goa Tuhan Yesus.

Namun, alih-alih memberikan sumbangsih atau keringanan harga demi tempat ibadah, oknum tukang sensor tersebut secara kaku mematok ongkos jasa yang dinilai sangat fantastis dan memberatkan, yakni sebesar Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah).

Padahal, seluruh biaya operasional logistik di lapangan telah ditanggung sepenuhnya oleh panitia rukun warga, mulai dari penyediaan bahan bakar minyak (bensin), oli mesin sensor, rokok, konsumsi makanan dan minuman, hingga fasilitas transportasi antar-jemput pulang pergi ke lokasi pengerjaan, serta dibantu juga oleh sejumlah masyarakat desa lauran yang ikut serta dalam proses kerja bakti sosial terkait penebangan sejumlah pohon kayu yang berada di areal lokasi Lourdes bunda Maria dan Goa Tuhan Yesus Desa Lauran

“Kami sangat menyayangkan sikap dan ketegaan oknum warga tersebut. Ini adalah proyek swadaya untuk membersihkan dan membangun tempat suci Bunda Maria yang kita gunakan bersama untuk sembahyang. Segala urusan operasional mesin dan makan minumnya sudah kita tanggung, tetapi dia tetap tega memeras kantong rukun dengan meminta uang tunai satu juta rupiah. Benar-benar minim rasa kepedulian terhadap gereja,” sesal salah seorang warga dengan nada kecewa kepada media.

Persoalan ini memicu perbincangan di akar rumput mengenai pentingnya rasa kebersamaan (spirit duan lolat) dalam menyukseskan pembenahan cagar budaya religi di Tanimbar. Warga berharap ke depannya, setiap elemen masyarakat di Desa Lauran dapat lebih mengedepankan ketulusan hati dan nilai gotong royong demi kelancaran pembangunan fasilitas rohani di Bumi Duan Lolat tanpa melulu bermotif komersial yang memberatkan kelompok.

( JKN. O.B/L )