SEMANGAT “TUT WURI HANDAYANI” MENGNGENAN DI HARI PENDIDIKAN NASYONAL 2026

Screenshot_2026-05-02-08-43-59-65_7352322957d4404136654ef4adb64504

JurnalKepulaan News Oleh: Soleman Jambormias, S.Pd., M.Pd., M.Kes.
(Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Selatan)
Dalam hening pagi yang sarat makna, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala sejenak untuk mengenang jasa besar Ki Hajar Dewantara—sosok pelita yang menyalakan obor pendidikan di tengah gelapnya keterbatasan masa lalu. Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukanlah sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali arah dan tujuan pendidikan bangsa.
Falsafah luhur “Tut Wuri Handayani” bukan hanya semboyan, melainkan napas kehidupan dalam setiap proses pembelajaran. Di dalamnya terkandung pesan mendalam bahwa seorang pendidik sejati hadir untuk membimbing dengan keteladanan, menguatkan dengan kepercayaan, dan melepas dengan harapan. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses memanusiakan manusia—membentuk karakter, menumbuhkan empati, serta membangun masa depan yang berkeadaban.
Di tanah Tanimbar yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, pendidikan menjadi jembatan emas menuju perubahan. Anak-anak dengan mata penuh harapan berjalan menembus batas geografis dan sosial, membawa mimpi besar yang menanti untuk diwujudkan. Mereka adalah wajah masa depan Indonesia yang harus kita jaga, didik, dan kuatkan dengan sepenuh hati.
Namun, realitas tidak selalu berjalan seiring harapan. Tantangan infrastruktur, keterbatasan akses, hingga kesenjangan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Di sinilah semangat Tut Wuri Handayani menemukan relevansinya—bahwa setiap elemen bangsa, baik pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat, memiliki tanggung jawab moral untuk hadir, mendorong, dan menguatkan generasi muda.
Pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang melihat setiap anak sebagai individu yang unik, bukan sekadar angka dalam statistik. Pendidikan sejati harus mendengar, memahami, dan merangkul; tidak memaksa, namun menginspirasi. Melalui pendekatan inilah, kita tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang berintegritas, berkarakter, dan berjiwa sosial tinggi.
Sebagai bagian dari upaya membangun generasi unggul, sinergi antara sektor pendidikan dengan kepemudaan, olahraga, pariwisata, dan ekonomi kreatif menjadi langkah strategis. Pendidikan kini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam ekosistem pembangunan manusia yang holistik. Anak muda tidak hanya diajarkan untuk mengetahui (to know), tetapi juga untuk berkarya, berinovasi, dan berkontribusi nyata bagi daerah serta bangsa.
Hari ini, kita tidak hanya mengenang; kita bergerak. Kita tidak hanya berbicara; kita bertindak. Semangat Tut Wuri Handayani harus hidup dalam setiap langkah kecil yang kita ambil—mulai dari ruang kelas sederhana di pelosok kampung hingga ke pusat-pusat kota.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai panggilan jiwa untuk terus menyalakan cahaya pendidikan, menghapus batas ketertinggalan, dan memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang kehilangan haknya untuk belajar dan bermimpi.
Karena sejatinya, pendidikan adalah tentang harapan. Dan selama harapan itu tetap menyala, masa depan Indonesia akan selalu menemukan jalannya.